The Best Custom Design

The best Custom Design

Jumat, 18 Januari 2013

Karpet Batik Semarang


Sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil.
Akibat pengendapan, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Pada tahun 1405M, Laksamana Cheng Ho bersandar di Semarang, kemudian mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).
Pada akhir abad ke-15 M, Kerajaan Demak, menugaskan Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), seiring waktu, dua kata itu menjadi Semarang.
Batik Semarang ternyata sudah ada sejak berabad abad lalu, hal ini diakui Robyn Maxwell, seorang peneliti tekstil di Asia Tenggara, ia menjumpai sebuah sarung di Tropenmuseum Amsterdam yang di buat di Semarang. Dalam bukunya Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade and Transformation (2003:386), Maxwell menyebut sebuah kain produksi Semarang berukuran 106,5×110 cm yang terbuat dari bahan katun dengan dekorasi dari warna alam memiliki motif yang sangat berbeda dengan motif Surakarta atau Yogyakarta.
Pepin Van Roojen, menemukan beberapa jenis batik dari Semarang seperti yang ditulis dalam bukunya berjudul Batik Design (2001:84). Ada kain sarung yang dibuat pada akhir abad ke-19 di Semarang. Sarung itu memiliki papan dan tumpal dengan ornament berupa bhuta atau sejenis daun pinus runcing asal Kashmir.
Begitu melegendanya, batik kota semarang, hingga gedung DPRD Kota Semarang, gedung tempat masyarakat berembug, berkumpul menentukan arah pembangunan, mempertahankan budaya kota semarang, kini dipasang karpet dengan desain batik kota semarang, sebagai aspirasi, sebagai bukti, langkah nyata revitalisasi budaya, sebagai kebanggaan akan tingginya budaya kota semarang. (uha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar